Oleh Vega Aulia Pradipta

JAKARTA: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengakui pihaknya memiliki pengalaman yang kurang baik dengan pengembang swasta yang membangun pembangkit listrik tenaga biomassa. Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengatakan PLN menyambut baik jika ada investor yang ingin berinvestasi di pembangkit listrik tenaga biomassa.

Namun, ketersediaan bahan baku untuk bahan bakarnya harus dipastikan terlebih dahulu. Sebelumnya PTT Exploration and Production Public Company Ltd, perusahaan migas asal Thailand diketahui berencana menanamkan investasi senilai US$3-4 juta di pembangkit listrik tenaga biomassa dengan kapasitas tidak lebih dari 10 MW. “Jika ada investor mau mengembangkan pembangkit biomassa, silakan saja. Cuma pengalaman kita selama ini, orang-orang yang membangun itu, tidak bisa memasok listrik ke PLN seperti yang dijanjikan,” jelasnya ketika dihubungi Bisnis hari ini. Menurutnya, kelangsungan pembangkit listrik tenaga biomassa memerlukan kepastian ketersediaan bahan baku untuk bahan bakarnya.

Dahlan mengatakan umumnya pengembang listrik swasta tidak bisa memasok listrik ke PLN seperti yang dijanjikan. “Salah satu contoh, pembangkit biomassa yang di Belitung dengan kapasitas 6-7,5 MW, itu investasinya kira-kira US$30 juta. Pengembangnya swasta, mestinya dia sudah harus kirim listrik ke PLN sejak tahun lalu, tapi realisasinya baru Januari 2011,” ujarnya. Selama Januari itu, lanjutnya, pengembang hanya bisa pasok listrik selama 20 hari dan kemudian berhenti hingga Agustus, yang baru bisa kirim listrik lagi selama 24 hari. Sedangkan saat ini, pasokan listrik kembali terhenti. “Dari segi penyelesaian, itu sudah molor berarti dia kena denda. Dari segi kemampuan kirim listrik, dia tidak bisa memenuhi yang dikontrakkan. Ternyata dia juga ngga bisa diandalkan,” ujarnya.

Selain di Belitung, pembangkit listrik tenaga biomassa di Jambi dan Kalimantan Selatan juga saat ini berhenti memasok listrik ke PLN. Dahlan mengatakan kendala utamanya adalah persoalan ketersediaan bahan baku, dimana pengembang tidak bisa mendapat bahan baku yang cukup, sesuai dengan studi kelayakan yang dilakukan dulu. Selain itu, ada juga yang karena harga bahan bakunya yang sekarang menjadi lebih tinggi. “Kasus di Belitung itu rencananya dulu itu dia dapat bahan baku dari cangkang kelapa sawit. Tapi ternyata kebun kelapanya sekarang tidak jadi banyak, jadi bahan baku kurang. Biomassa banyak mengalami persoalan seperti itu. Ini harus ada pemikiran ulang agar itu tidak terjadi lagi,” ujarnya. (Bsi)

About Pontianak Biomass

we make a renewable energy in West Borneo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s